Dunia politik Amerika Serikat kembali berguncang. Anggota Kongres dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, mengumumkan pengunduran diri. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak. Pengumuman ini datang hanya beberapa hari setelah perselisihan publiknya dengan mantan Presiden Donald Trump. Greene merupakan salah satu tokoh pendukung Trump paling vokal. Namun, hubungan mereka kini merenggang tajam. Dia akan resmi meninggalkan Kongres Amerika pada Januari 2026. Kejadian ini menandai akhir dari aliansi politik yang sempat sangat kuat.
Akar Pertikaian: Dokumen Epstein dan Label “Pengkhianat”
Awal mula konflik ini cukup kompleks. Greene secara konsisten menuntut pembebasan dokumen Epstein. Dokumen ini terkait dengan kasus mendiang Jeffrey Epstein. Tuntutan ini awalnya mendapat dukungan dari basis Trump. Namun, lama-kelamaan Trump menganggap isu ini sebagai gangguan. Dia berpendapat isu ini hanya untuk mengalihkan perhatian dari pencapaian pemerintahnya. Sebaliknya, Greene tetap ngotot. Dia menyuarakan perlunya keadilan bagi korban Epstein.
Akibatnya, feud politik antara keduanya memanas. Trump merespons dengan serangan di media sosial. Dia menyebut Greene sebagai “pengkhianat” dan “aneh”. Trump bahkan mengancam akan mendukung penantangnya di pemilihan pendahuluan. Greene merasa terluka oleh serangan tersebut. Dia menyatakan tidak bisa menjadi “istri yang disiksa” yang terus berharap kondisi membaik. Situasi ini semakin memburuk dan tak bisa lagi ditoleransi olehnya.
Untuk memperjelas poin-poin penting dari konflik ini, berikut adalah ringkasannya dalam tabel:
Keputusan Mengundurkan Diri dan Reaksi Trump
Dalam video pernyataannya, Greene menjelaskan alasannya mundur. Dia tidak ingin daerah pemilihannya menderita. Menurutnya, pemilihan pendahuluan yang “menyakitkan dan penuh kebencian” akan terjadi. Hal itu disebabkan oleh serangan dari presiden yang pernah mereka dukung bersama. Dia khawatir Partai Republik akan kalah di pemilihan tengah semester. Penting untuk dicatat, dia tetap yakin bisa memenangkan pemilihannya sendiri. Namun, dia memikirkan dampak yang lebih besar bagi partainya.
Sebagai respons, Trump menyambut baik kabar pengunduran diri tersebut. Dalam wawancara dengan ABC News, Trump menyebutnya “berita bagus untuk negara”. Reaksi ini menunjukkan betapa parahnya keretakan hubungan mereka. Sebelumnya, mereka adalah sekutu dekat dalam agenda “America First”. Greene bahkan merupakan salah satu suara paling lantang mendukung klaim palsu Trump soal kemenangan pemilu 2020. Kini, aliansi itu telah hancur total.
Masa Depan Politik Greene dan Dampak bagi Partai Republik
Meskipun akan meninggalkan Kongres, karir politik Greene mungkin belum berakhir. Beberapa media AS melaporkan minatnya untuk jabatan tinggi di negara bagian Georgia. Dia bisa mencalonkan diri sebagai gubernur atau senator. Namun, Trump pernah mengatakan bahwa pollingnya buruk. Dia menyarankan Greene untuk tidak maju di posisi tersebut. Sejauh ini, Greene membantah memiliki rencana untuk itu.
Di sisi lain, kepergian Greene akan berdampak signifikan. Partai Republik hanya memiliki selisih kursi tipis di Dewan Perwakilan. Pengunduran diri ini akan semakin menyempitkan keunggulan mereka. Kontrol atas Dewan akan menjadi taruhan utama di pemilihan tengah semester 2026. Akibatnya, Partai Republik harus bekerja lebih keras. Mereka perlu mencari pengganti yang solid untuk mempertahankan kursi Greene. Feud ini tidak hanya merusak karir individu, tetapi juga memengaruhi keseimbangan kekuasaan di Kongres Amerika.